Sabtu, 11 Juni 2011

The Kite Runner

Aku tahu anak itu masih belum bisa menerima kehadiranku di rumah ini. Tatapannya yang masih tak berubah, seperti tatapan waktu Khaylila memakan roti pemberianku dan juga masih seperti saat dia menatapku di musholla waktu itu.
            Tapi, seperti yang kutahu. Waktu adalah kunci luluhnya perasaan seseorang
Mungkin itulah yang bisa menjadi peganganku saat ini. Walaupun saat ini dia tak bisa menerimaku, tapi kuyakin, waktu kan mengisahkan lakonnya sendiri. Ajang pembuktian dirinya akan datang, mengahampiri, menuntunku mengenyahkan labirin sikap antara kami.
Seperti yang pernah kukatakan, takdir adalah sebuah tanda tanya.
Tanda tanya itu kini hadir dalam bingkaian tulisan hidupku. Muncul diantara celah huruf yang tak lagi menghendaki dan menerima sebuah titik sebagai pembatasnya.
Kesempatan itu datang, dan waktu membuktikan kedigdayaannya.
Anak itu sedang asyik-asyiknya berlarian antara hamparan besi-besi hitam yang mengalur panjang. Musim layangan sedang marak. Banyak kotak-kotak kertas melayang diudara, tengah berjuang melawan angin, memuaskan sang empunya. Gesekan-gesekan benang yang diiringi cengiran serta teriakan mewarnai daerah berbatu lintasan kereta itu. Mereka tertawa, kadang saling mengejek dan kembali bercanda. Tapi itu hanya beberapa kegiatan menunggu sesuatu.
Benar… Layangan putus.
Itulah saat yang paling ditunggu. Anak-anak mengambil ancang-ancang untuk berlari, saling mendahului. Mereka berlari untuk mengambil layangan itu. Disini nilai tidaklah berarti, kawan. Kebanggaan sebagai pengumpul layangan terbanyak adalah segalanya. Benar-benar euforia The Kite Runner -nya Khalled Khosaini. Tak cuma di Afganistan, disini pun tak kalah maraknya, tapi yah, hanya sebatas permainan anak pinggiran.
Alif terkenal sebagai pengumpul layangan terbaik untuk kelasnya. Kelas untuk usia Alif bisa dibilang 125cc, belum mencapai 250cc apalagi menyaingi Valentino Rossi di kelas raja. Tapi, yang sama sekali tak kumengerti, dia tidak pernah membawa layangan itu kerumah. Akupun sempat bingung dengan hal ini, tapi setelah menanyakan kesemua anak yang bermain layangan, mereka berkata bahwa Alif menjual kembali layangannya.
Aku tetap tak akan meralat perkataanku teman.
Nilai memang tidak berlaku disini, melainkan kebanggaan. Tapi saat seseorang menjual kebanggaan itu hanya untuk membelikan adiknya sepotong es lilin, maka itu memaksaku kembali mencecap kataku.
Bukan uang dan kebanggaan itu yang bernilai, tapi apa yang ia lakukan dengan menguangkan kebanggaan, itulah yang tak ternilai.
Kini aku tahu, darimana asal bungkus-bungkus es lilin yang kemarin-kemarin ada di kaki tempat duduk bambu depan rumah. Kalupun nanti aku berkesempatan bertemu dengan Khaled Khosaini maka dengan riang akan kukatakan; Alif, dialah The Kite Runner-ku yang terhebat diseluruh dunia.
Yah, Alif sore itu juga kembali berlari-lari sepanjang rel. Matanya tetap terpaku pada selembar layangan yang meliuk santai, menari ditiup angin. Akupun saat itu hanya kebetulan melihat anak itu dari pinggiran kali, jalan yang kulalui kalau pulang dan pergi kerja.
Dia sama sekali tidak melihatku. Dengan muka masih menatap langit, ia terus berlari. Gapaian tangannya jelas belum mampu menggapai juluran tali layang yang menjuntai, tapi itu tak jadi soal. Para pesaingnya jauh tertinggal dibelakang. Sudah kubilang, untuk ukuran 125cc dia bukanlah sesumbar tentang lincah, gesit dan irit.
Hanya satu kesalahannya waktu itu. Ia sama sekali tak menatap sekeliling. Tidak melihatku, tidak melihat para pesaingnya dan terlebih sama sekali tidak melihat saat deruman kereta melaju mengancam nyawanya. Deru angin memang menyapu geraman ular besi itu, terlebih itu kereta ekspres AC, selain suaranya tidak begitu nyaring, lajunya yang kencang juga semakin mendukungnya sebagai pemangsa terhebat.
Para pesaing berteriak, saat itu kulihat sekilas tatapan ngeri anak itu menatap kereta yang hanya beberapa meter saja didepannya.

Byuurrrr

Aku langsung melesak menghujam air hitam dibawah jembatan rel yang dilalui kereta tadi. Untunglah, sesuatu sosok masih melekat dipelukkanku. Sosok yang beberapa saat lalu hanya berdiam mematung didekat jembatan itu kini aman didekapku. Aku berhasil menyapunya, mencuri dari terkaman karnivora itu disaat terakhir.
Air menggelegak dari mulutku. Rasa yang aneh khas comberan memenuhi mulutku. Aku menggapai-gapai air, menyibaknya untuk menemukan cahaya. Akhirnya cahaya itu kutemukan, sekuat tenaga aku menyibak air diatas tubuhku. Aku mencabik air tanpa ampun. Mungkin itu juga yang membuatku berhasil kembali kedaratan. Air telah mendorongku untuk menjauhinya, aku sama sekali tak lembut untuk menjadi kawan dalam peluknya..
Segenap nafasku berusaha melepehkan kembali air limbah cemar yang sempat masuk ke rongga dadaku. Sambil terbatuk aku mengeluarkan air hitam dari mulut. Menjijikan.
Aku tak perlu mengkhawatirkan anak itu. Dia kini sudah duduk tenang diatas hamparan rumput, lebih sehat dari aku. Mungkin aura permusuhan denganku banyak membantunya untuk muntah. Seperti halnya rasa jijik saat sesuatu yang paling menjengkelkan bagimu baru saja memelukmu, terlebih menyelamatkanmu.
“Kenapa kamu menolongku,” katanya menatapku serius.
Nadanya bukanlah bertanya, melainkan hanya menegaskan bahwa sesuatu yang sudah terjadi selama ini tak akan semudah itu berubah.
Sudahlah, aku pun tahu hal itu. Tapi setidaknya ia sudah mau bicara, kemajuan yang bisa diibaratkan rintihan dari seseorang yang sudah lama terbaring koma.
Aku kembali menghelakan nafas panjang sembari memungut tas yang tadi sempat kulemparkan sebelum menyambar anak itu.. ”Hhhh...aku cuma ingin tolong kamu saja. Lagipula Khaylila sudah menunggu es darimu dirumah.” Setelah berkata, aku melenggang pulang, masih kuyup dan bau aneka campuran produk pabrik, alam dan manusia yang melekat erat disekujur tubuh. Parfum istimewa yang tak akan kau jumpai ditoko manapun juga. Di pasar malam pun takkan ada.
Aku tahu, peristiwa itu sedikit banyak mempengaruhi semuanya. Kini tak lagi ada tatapan pengusiran dari matanya. Cuma, mungkin ucapnya masih belum bisa berangkulan menyambutku. Tapi tak apalah. Setidaknya ia tak akan lagi melarang Khaylila memakan roti pemberianku.

Aku masih ingat, saat kemarin kami pulang dengan kuyup dan berbau yang luar bisa harum. Khaylila menyambut kami, sedikit heran akan kondisi yang memprihatinkan itu. Tapi dia hanya memandang tanpa bertanya sedikitpun. Malah sesuatu yang luar biasa terjadi sore itu
“Khaylila, sekarang kamu boleh makan roti yang kemarin dikasih bang Umam…”
Aku menatap penghasil suara itu. Anak berbaju basah disampingku itu berkata, bukan, lebih tepatnya menggumam tentang sesuatu. Aku tak bisa percaya hal ini.
Bagai matahari yang terbit dari barat, mungkin kiamat telah datang hari ini. Atau ada hujan badai? Bagaimana mungkin, ibarat menara eifel hanya berdiri dengan satu kaki atau seperti nenek tua bertongkat yang menyanyi ala Rihanna. Bergaya dengan tongkatnya yang menggantikan payung lalu mulai bergoyang, ela..ela.. e.. e…
Haha… bercanda.
Tapi ini nyata.
Saat aku hanya bisa heran menyadari semua yang baru terjadi, Khaylila langsung melesat menyibakkan tirai dari jendela. Mengambil semua roti disana, baik yang masih utuh maupun yang tinggal separuh. Lalu, masih dengan semangat ia menghampiri kami, wajahnya tersenyum penuh kemenangan.
Tapi perlahan senyum itu memudar. Aku tahu alasannya. Roti itu telah dipenuhi bercak-bercak jamur kurang ajar. Terlalu lama memang. Lima hari sudah bukanlah waktu layak konsumsi lagi. Tangan yang menggenggam roti itu mengendur, siap mengiklaskan raibnya senyum kemenangan dari bibirnya tadi.
Alif kini menatapnya lemah. Matanya sudah lusuh akan airmata yang menggenang. “Maafin abang ya, Khaylila…” kata Alif, memeluk Khaylila, sambil mengusap-usap rambutnya.
Khyalila, hanya bisa mengangguk-angguk dalam pelukan Alif.

Aku berkata memecah pelukan itu.
“Hei, apa ada yang mau roti ?” Aku mengacungkan beberapa roti dari dalam tasku.
Pelukan itu kini terlepas. Khaylila langsung menubrukku, merebut roti yang beberapa saat lalu masih tergenggam erat ditangan. Dengan cepat ia membuka bungkusnya, lalu memakannya. Tetap saja, dengan rakusnya. Roti berjamur itu sekarang tergeletak begitu saja tanpa arti. Roti yang sangat berjasa bagiku kukira, tapi tak mungkin lah aku menyimpannya. Kalau sampai aku menyimpannya, aku hanyalah seorang kolektor bodoh, walaupun kuakui itu sebuah benda yang sangat berharga.
Kulihat Alif menyeka bulir-bulir air matanya. Berusaha menyembunyikannya dariku, kukira. Huh, bodoh... Apa perlu menangis hanya untuk sebuah roti bulukan berjamur. Dasar anak-anak bodoh.
======

Tidak ada komentar:

Posting Komentar