Selasa, 14 Juni 2011

Nyanyian Anak-Anak Surga

Mendendang lenguh guratan hidup
Meniti tiap titian besi panas yang melepuhkan pijak
Pias peluh mengaliri di setiap pori tak berebentuk ini
Lagi…
Kian menjerit tawa dalam kepedihan yang memikat
Kita ini bukan malaikat
Terbelenggu kian oleh kenistaan pekat
Terlaknat…?
Dalam mengganyang,
Dalam terlentang,
Dalam terlihat gemintang
Kita ini…
Dalam titian panjang
Senandung kata yang terbit kala
Senang, sedih, haru biru, duka
Kita rasa tapi berpura tak rasa
Apa salah, memunafikkan semua…?
 Petikkan Nada ini petikkan hidup ini
Senandung ini mengalir layaknya air
Yang mengenal liku, lekuk serta bentuk kali
Kita kenal, kita hafal
Ini terjal, tapi kita tak keberatan
Ini hidup kita, ini kehidupan kita
Tawa hanya sebuah tameng muka
Benarkah…?
Mungkin saja
Bilamana gula adalah penutup rasa tawar
Kita hanya ikan
Yang berkecipak kian kemari diselokan hitam
Menari indah hanya demi remah yang terlempar
Remah yang tetap tercemar
Apa kita keberatan…?
Tidak…
“Kakak…”kata Khalila sambil menatapku
“Bukankah kakak pernah berkata,‘Bernyanyilah layaknya nyanyian anak-anak surga,  Buatlah agar nyanyianmu tidak mengganggu  Tapi nyanyianmu membuatmu dihargai layaknya seorang manusia.’
Lalu mengapa kakak mengeluh…?”
Aku senyum meracau menyepahkan kata
“Yah,… Layaknya seorang manusia…”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar